13 November, 2008

memilih atau dilahirkan untuk

dulu ketika kuliah psikologi sosial sempat ada pokok bahasan apakah orang itu memilih untuk menjadi miskin atau dia terlahir sebagai orang miskin, banyak pro-consnya, pada ujung-ujungnya tidak ada yang benar atau yang salah..
tapi semakin hari  saya semakin berpikir, sepertinya memang ada yang terlahir sebagai si kaya dan si miskin, tapi setelah mereka menjadi dewasa, mampu menentukan pilihan, hal itu menjadi "pilihan"

sehabis lebaran, saya nggak ambil cuti, sedangkan si kembar masih memiliki 1 mg liburan sekolah yang membuat saya menitipkan mereka di Bandung. Karena helpers dari mama belum pulang dan mbaks nya si kembar juga belum datang, saya mengambil "infal", bukan infal prof dari yayasan sih,,,,
Namanya Dewi, umurnya 15 tahun, sudah berhenti sekolah dengan alasan klise, anak kedua dari tujuh bersaudara, adik bungsunya masih 1 tahun. Konon dia cerita bahwa rumahnya masih beralaskan tanah, bapaknya tidak memiliki pekerjaan tetap, ibunya juga tidak bisa bekerja karena masih punya anak kecil 1 tahun ini. (saya berpikir:lah dengan kondisi ekonomi susah mengapa terus memproduksi anak ya..) Saya bertanya Dewi ngapain aja di rumah dan dijawab: HANYA DIAM. Dengan alasan tertentu, dan karena Dewi juga senang maen dengan anak-anak, saya menawarkan dia untuk terus membantu di rumah, daripada di desanya dengan pekerjaan, dan kehidupan yang makan saja harus bergiliran, lalu apa jawabannya: SAYA MAU DI RUMAH SAJA AH.. (haha..., tapi ya sudahlah mungkin itu kemampuan memutus yang dimiliki oleh seorang Dewi)

Beberapa minggu lalu, seorang kerabat saya (kerabat yang cukup dekat dengan tingkat pendidikan yang cukup lumayan) , mengirimkan sms katanya butuh biaya untuk melahirkan anak ketiganya. Saya tercengang, ketika yang bersangkutan memutuskan hamil lagi, kami di keluarga pun cukup bertanya-tanya, mengingat, beberapa sms sering dikirimkan kepada kami untuk membantu roda kehidupan keluarganya, dan juga riwayat kelahiran beliau adalah caesar, alhasil kalau harus melahirkan lagi pasti juga harus caesar. 

Saya percaya rejeki sudah ada yang mengatur, tapi kan kita sebagai manusia juga tidak boleh berhenti berusaha dan tahu batas kemampuan kita masing-masing, jadi kalau sekarnag ada diskusi lagi dalam kelas psikologi sosial, stand saya adalah ITU SEBUAH PILIHAN, life is all about choices  

Tidak ada komentar: