28 November, 2008

mencintai atau dicintai

postingannya nanti ya....(pulang dari Batam-halah)
terinsight adri topik cosmopolitan hari ini 

13 November, 2008

memilih atau dilahirkan untuk

dulu ketika kuliah psikologi sosial sempat ada pokok bahasan apakah orang itu memilih untuk menjadi miskin atau dia terlahir sebagai orang miskin, banyak pro-consnya, pada ujung-ujungnya tidak ada yang benar atau yang salah..
tapi semakin hari  saya semakin berpikir, sepertinya memang ada yang terlahir sebagai si kaya dan si miskin, tapi setelah mereka menjadi dewasa, mampu menentukan pilihan, hal itu menjadi "pilihan"

sehabis lebaran, saya nggak ambil cuti, sedangkan si kembar masih memiliki 1 mg liburan sekolah yang membuat saya menitipkan mereka di Bandung. Karena helpers dari mama belum pulang dan mbaks nya si kembar juga belum datang, saya mengambil "infal", bukan infal prof dari yayasan sih,,,,
Namanya Dewi, umurnya 15 tahun, sudah berhenti sekolah dengan alasan klise, anak kedua dari tujuh bersaudara, adik bungsunya masih 1 tahun. Konon dia cerita bahwa rumahnya masih beralaskan tanah, bapaknya tidak memiliki pekerjaan tetap, ibunya juga tidak bisa bekerja karena masih punya anak kecil 1 tahun ini. (saya berpikir:lah dengan kondisi ekonomi susah mengapa terus memproduksi anak ya..) Saya bertanya Dewi ngapain aja di rumah dan dijawab: HANYA DIAM. Dengan alasan tertentu, dan karena Dewi juga senang maen dengan anak-anak, saya menawarkan dia untuk terus membantu di rumah, daripada di desanya dengan pekerjaan, dan kehidupan yang makan saja harus bergiliran, lalu apa jawabannya: SAYA MAU DI RUMAH SAJA AH.. (haha..., tapi ya sudahlah mungkin itu kemampuan memutus yang dimiliki oleh seorang Dewi)

Beberapa minggu lalu, seorang kerabat saya (kerabat yang cukup dekat dengan tingkat pendidikan yang cukup lumayan) , mengirimkan sms katanya butuh biaya untuk melahirkan anak ketiganya. Saya tercengang, ketika yang bersangkutan memutuskan hamil lagi, kami di keluarga pun cukup bertanya-tanya, mengingat, beberapa sms sering dikirimkan kepada kami untuk membantu roda kehidupan keluarganya, dan juga riwayat kelahiran beliau adalah caesar, alhasil kalau harus melahirkan lagi pasti juga harus caesar. 

Saya percaya rejeki sudah ada yang mengatur, tapi kan kita sebagai manusia juga tidak boleh berhenti berusaha dan tahu batas kemampuan kita masing-masing, jadi kalau sekarnag ada diskusi lagi dalam kelas psikologi sosial, stand saya adalah ITU SEBUAH PILIHAN, life is all about choices  

11 November, 2008

keseleo vs delivering babies

Buat yang belum pernah keseleo tapi udah pernah melahirkan, confirmed bahwa keselo lebih menyakitkan daripada melahirkan (halah, but I can guarantee this, for sure). I did it both, even proses delivery saya berlangsung normal dan dilakukan dua kali pengejanan (dengan delay waktu 5 menit) i'd rather to be asked for delivering a baby than keseleo.
Ceriitanya Minggu, 2  November saya keseleo dan langsung bengkak, panik deh dan langsung sms beberpaa teman, ada beberapa rekomendasi juga, hanya karena Popop males nganter ke tempat yang jauh, akhirnya kami memutuskan memanggil tukang urut deket sekolah Dd-Lala. Dengan meringis kesakitan saya diurut oleh si Ibu for 1 hour, ehm meringis kesakitan deh. Pesannya adalah jangan dibawa jalan nanti kakinya bengkak, alhasil saya menjadi putri selama hari Minggu, dan engkle-engkle dengan sangat terpaksa (hanya) kalo mau ke WC. Hari Senin-Selasa, saya off masuk kantor, asyik juga ya menikmati kebersamaan dengan twinnies di rumah, walaupun karena kaki keseleo.
Hari Rabu, karena ada sesi yang wajib saya ikuti (sebenernya wajib karena belum ada stunt man aja ye...  atau pemeran pengganti, saya ke kantor dan harus ke Pertamina tentunya dengan kaki terseok dan bengkak (huuuuuuuuu). Di Pertamina saya bsa menutupi keseleo-an nih, kecuali dengan teman-teman terdekat, yang "katanya malu mengakui teman" (hahahaha) tapi memberikan rekomendasi tukang pijet. Anyway thank you, dan hari Rabu saya pun dipijat di kantor yang dibesuk, ya iyalah dipijet di open space pasti banyak yang liat. Tapi seneng deh diperhatiin, kan artinya saya acceptable di sini (halah narsis.com).
Hari Kamis, kaki ini masih bengkak, alhasil hari Jumat saya berjuang untuk dirontgen di kantor, dan menurut hasil rontgen yang dilihat sekilas (karena belum ada dr yang bacanya) ada sedikit keretakan. Mbak Ina, kekeuh menyuruh saya ke H. Naim , dan Ari ternyata punya pengalaman di H. Naim. Terpaksa deh nyuruh Mbak Ina yang bujuk Popop.
Karena masih penasaran, hari Sabtu akhirnya kita ke RSPI dan have one day visit (hehehehe, sekalian deh imunisasi Dd-Lala). Hasil rontgen bilang bahwa memang ada keretakan tapi posisi tidak berubah, karena Dr. Orto-nya udah pulang, akhirnya buat sched hari Senin.Meanwhile Dr nyuru saya pake Trombopop dan balut kakinya pake hansocraft biar nggak bergerak. 
No more choice saya paksa Popop ke H. Naim hari Minggu-nya (mengenai H. Naim saya post di review ya), pijetannya nggak sampe 5 menit, dan saya langsung dipasang bambu, dan diperban kain kasa (persis seperti saran dokter), katanya I. Allah 4 hari lagi bisa dibuka sendiri dan I. Allah sudah baik. Amin ya Allah,  sekarang saya ke kantor masih bersepatu teplek yang belum bisa ditutup, ya iyalah pan masih ada perban dan kain kasa itu.
Apapun yang terjadi saya harus bisa mengambil hikmahNya kan, ini kan ujian dari Allah, dan saya tetep musti bilang Alhamdulillah, bahwa saya masih diberi kesempatan sembuh, Amin....
Doakan ya hari Kamis kaki saya kembali seperti sedia kala (walaupun for a time being no more high heels, but there's a reason to buy a new flat shoes kan... piss ah)