Hari ini tiga tahun yang lalu ketika saya, popop dan twinjos (they were 6 months old) baru saja pulang dari berjalan-jalan, saya ingat while lala was so happy at the afternoon, ketawa-letawa di mobil, senyum-senyum....
Maghrib seperti biasa gadis-gadis kecilku waktu itu sudah tertidur...., jam 9 saya pun berencana untuk tidur, pan biasa kalo malem waktunya memberikan ASI, kemudian saya masuk kamar tidur (da udah ngantuk). Popop masih nonto tv, tiba-tiba HP saya berdering, calling ID: unyil, pas mau saya angkat, tiba-tiba batere HP saya drop, jadi HPnya langsung mati. Ah, ngapain ya adik bungsuku itu menelepon, pasti dia salah pencet, tadinya mau ke salah satu pacarnya....hehe
Tiba-tiba Popop masuk kamar dan bilang: nih, ada telepon dari Dvy, terus saya angkat: ada apa...? kok fenny hpnya nggak diangkat, oh iya baterenya habis, ada apa? Nggak fenny harus ke Bandung sekarang. Kenapa, papa masuk rumah sakit ya....? Nggak papa meninggal... Hahhhhhhhhh? (ceritanya selanjutnya sudahlah ya semua pasti menebaknya)
Semenjak saya menikah memang kondisi kesehatan Papa terus menurun tapi kepergiannya terasa sangat tiba-tiba. Banyak yang saya sesali memang dari kepergian beliau, bahwa ketika itu baru saja Idul Adha, dan saya tidak menghabiskan Idul Adha bersamanya karena salah satu kakak ipar saya menikah di Jakarta, sehingga keluarga suami saya datang ke Jakarta.
Kejadian itu tepat pada hari Minggu, saya masih ingat bahwa sudah sejak lama Papa meminta si kembar menemaninya di Bandung. Alasannya Papa sehat kalo ada kedua cucunya itu. Saya selalu ngotot untuk bilang: tunggulah Pa sampai mereka enam bulan saja, karena saya berencana memberikan ASI penuh sampai mereka 6 bulan. Pada hari Rabu, papa berencana menjemput mereka ke Jakarta karena tepat 26 Januari si kembar 6 bulan, sayangnya manusia hanya berencana. Paginya pun Papa masih telepon dan berbicara dengan kedua cucunya (tentunya bukan pembicaraan seperti cucunya sekarang dengan ecis)
Banyak memang yang saya sesali, rasanya belum cukup bakti saya untuk Papa. Saya juga teringat keinginan Papa untuk membukukan seluruh tulisannya. Papa memang seorang penulis, karyanya sering dimuat di harian umum. Sayangnya menerbitkan buku jaman dahulu tidak semudah sekarang seiring dengan berjamurnya toko buku dan perusahaan penerbit. Papa juga seorang pembicara handal dengan jam terbang yang cukup tinggi. Entah Papa sudah tahu atau belum, tapi saya baru tahu sekarang, bahwa saya mempunya kesukaan menulis, hehehe, sudah beberapa buku yang saya bantu penulisannya, hehe.
Kalau teringat saya menyesal, bagaimana tidak, ayah saya sendiri tidak saya bantu dalam penyusunan bukunya.... Sekarang saya pun mulai agak-agak laris manis menjadi moderator dengan honor (hehehe). Rupanya ya, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya...
Seandainya Papa melihat dari alam sana, terima kasih ya Pa untuk semua bakat yang diberikan, i love you more than I knew it, semoga saya tetap bisa menjaga pesan Papa yang Papa sampaikan satu hari menjelang pernikahan saya, do'a saya untuk Papa, semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah Papa dan mengampuni seluruh dosa Papa..
Pa, I always proud for having you as my father, you are the greatest father in the world, Luv U (even it was three years ago, there's still tears falling down from my eyes)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar